Kecelakaan pesawat milik MA 60 Merpati Nusantara MA 60 membetot polemik seputar alasan pemilihan pesawat tersebut untuk operasional Merpati. Benarkah MA 60 produksi China itu andal?
Indonesia sendiri sebenarnya memiliki CN 235, pesawat yang dirancang untuk penerbangan jarak pendek dan sangat seusai untuk melayani penerbangan perintis.
CN 235 hasil kerja sama CASA Spanyol dan IPTN ketika itu mulai dirancang Januari 1980. CN 235 mulai diproduksi 19 Agustus 1986. CN 235 juga telah mendapat sertifikasi Federation Aviation Administration (FAA) pada 3 Desember 1986. Sedangkan MA 60 belum.
Kini, sedikitnya 230 buah CN 235 berbagai tipe telah digunakan puluhan negara dan telah mengantongi lebih dari 500 ribu jam terbang.
Kehandalan CN 235 terlihat banyaknya jenis yang digunakan sebagai pesawat militer untuk patroli maritim. Militer Turki merupakan pengguna CN 235 terbesar, dengan 62 unit. Militer Spanyol juga menggunakan 22 unit CN 235 dan Korea Selatan memiliki 20 unit.
CN 235 juga dipakai oleh Angkatan Udara Amerika serikat untuk 427th Special Operation Squadron. CN 235 juga tercatat digunakan militer antara lain Perancis, Irlandia, Meksiko, Malaysia, Thailand hingga Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Sementara untuk penerbangan sipil, CN 235 dipakai antara lain oleh maskapai penerbangan Spanyol, Argentina, Filipina, Afrika Selatan.
CN 235 menggunakan dua mesin General Eletric CT7-9C, turboprops yang mampu menerbangkan CN 235 pada kecepatan jelajah 460 km/jam. Pesawat dengan kapasitas 44 penumpang itu memiliki daya jelajah 3.910 km.
Dengan spesifikasi itu CN 235 merupakan pilihan tepat untuk melayani rute penerbangan perintis di daerah terpencil. Ini cocok untuk kondisi Indonesia. CN 234 juga mampu mendarat di landasan tidak beraspal dan lepas landas dari landasan pacu yang pendek.
Pengakuan dunia terhadap CN 235 dan keunggulan teknologinya ternyata belum cukup membuat pesawat produksi Indonesia itu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Sumber :
forum.vivanews.com
0 komentar:
Posting Komentar